KBRN, Yogyakarta: Menjelang diketoknya rencana putusan sistem pelaksanaan Pemilu 2024, mahasiswa lintas kampus yang tergabung dalam PMKRI Yogyakarta pada hari Selasa (13/6/2023) menggelar aksi penolakan terhadap sistem Pemilu Proporsional Tertutup, di Tugu Yogyakarta.
Salah satu bentuk aksi atas akan adanya keputusan dari Mahkamah Konstitusi (MK) yang akan memutuskan sistem pemilu 2024 menjadi terbuka atau tertutup. Rencananya putusan itu akan diketok pada Kamis (15/6/2023).
Menanggapi aksi yang dilakukan PMKRI Yogyakarta, anggota DPRD DIY, R. Stevanus C. Handoko menyampaikan, bahwa aksi mahasiswa ini merupakan aksi yang perlu diapresiasi sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi perpolitikan yang terjadi saat ini.
“Mahasiswa yang tergabung dalam PMKRI Yogyakarta perlu diapresiasi, telah menyampaikan aspirasinya terkait dengan kondisi yang menjadi isu hangat nasional dan ini menyangkut kondisi secara nasional dalam proses demokrasi ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, PMKRI Yogyakarta telah berani bersuara, tentang kondisi politik terkini yang akan sangat berpengaruh terhadap sistem pemilu dan hasil dari Pemilu kedepan.
“Kondisi saat ini perlu menjadi perhatian semua pihak, bahwa perubahan sistem pemilu dari proporsional terbuka menjadi proporsional tertutup mencederai semangat reformasi, mencederai semangat demokrasi yang diharapkan anak muda generasi milenial dan gen-Z,” kata R. Stevanus.
Langkah yang dilakukan oleh PMKRI Yogyakarta, menurut Stevanus merupakan ungkapan gunung es dari aspirasi dan harapan mahasiswa, generasi millenial dan gen-Z.
Ia menyebutkan, gagasan sistem pemilu proporsional tertutup menjadi sebuah kemunduran dalam politik di Indonesia. Bahkan diungkapkannya, jika sekadar mencoblos logo dan nomor urut partai, rakyat seperti memilih kucing dalam karung, Kedaulatan rakyat seperti terbelenggu suara kuasa dari partai politik.
“Sistem pemilu proporsional terbuka memberikan kesempatan kepada pemilih untuk memilih kandidat secara langsung, sistem ini mendorong partisipasi politik anak muda dan gen-z yang lebih besar. Pemilih merasa memiliki keterlibatan langsung dalam pemilihan, yang dapat meningkatkan minat dan partisipasi mereka dalam proses politik,” ucapnya.
Aksi Panggung Ekspresi di Tugu Yogyakarta yang dilakukan oleh PMKRI Yogyakarta tidak hanya terkait dengan sistem pemilu proporsional terbuka dan sistem proporsional tertutup, namun juga terkait isu pendidikan, isu kemiskinan dan kesejahteraan.