(0274) 540650
dr.stevanus.net@gmail.com
Jl. Malioboro No.54, D.I. Yogyakarta - 55271
Dr. Raden Stevanus Christian Handoko S.Kom., M.M > Jejak > Proporsional Terbuka Diketok, Politisi PSI Apresiasi Keputusan MK

Proporsional Terbuka Diketok, Politisi PSI Apresiasi Keputusan MK

  • Posted by: dewanstevanus

KBRN, Yogyakarta: Politisi muda dari Partai Solidaritas Indonesia R. Stevanus Handoko memberikan apresiasi atas keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi pasal dalam UU Nomor 7 tahun 2017. Undang-undang ini tentang Pemilu yang mengatur sistem pemilihan umum (pemilu) proporsional terbuka.

R. Stevanus yang juga anggota DPRD DIY ini menyampaikan, bahwa sejak awal menentang adanya gagasan sistem pemilu proporsional terbuka diubah menjadi tertutup. Dengan putusan perkara Nomor 114/PUU-XX/2022 tersebut, maka pemilu tetap memakai sistem proporsional terbuka.

“Saya berterima kasih dan mengapresiasi hasil keputusan MK yang masih mendengarkan aspirasi sebagian besar masyarakat Indonesia terutama aspirasi generasi millenial dan Gen-Z,” kata R. Stevanus, Kamis (15/6/2023).

Menurutnya, keputusan ini sudah sangat tepat, dan diharapkan, semua pihak menghargai keputusan MK yang menolak permohonan para pemohon untuk seluruhnya. Ia menjelaskan, gagasan sistem pemilu proporsional tertutup menjadi sebuah kemunduran dalam politik di Indonesia.

Jika sekadar mencoblos logo dan nomor urut partai, rakyat seperti memilih kucing dalam karung. Bahkan kKedaulatan rakyat seperti terbelenggu suara kuasa dari partai politik.

“Sistem pemilu proporsional terbuka memungkinkan pemilih dapat memilih kandidat individu yang mewakili nilai-nilai dan kepentingan mereka, sehingga memperkuat representasi yang lebih inklusif dalam parlemen,” ucap R. Stevanus.

Ia menambahkan, sistem pemilu proporsional terbuka memberikan kesempatan kepada pemilih, untuk memilih kandidat secara langsung. Sistem ini mendorong partisipasi politik anak muda dan gen-z yang lebih besar. 

Pemilih merasa memiliki keterlibatan langsung dalam pemilihan, yang dapat meningkatkan minat dan partisipasi mereka dalam proses politik.

“Kita berharap transparansi, keterbukaan, menjadi salah satu daya tarik anak muda untuk turut terlibat dalam politik. Sistem meritokrasi dalam pemilu menjadi harapan anak muda untuk terlibat aktif,” ujar R. Stevanus.

“Sistem proporsional terbuka menjadi sistem yang paling tepat untuk saat ini dengan kondisi bonus demografi yang sangat besar,” lanjutnya.

Pemilih saat ini, diungkapkan R. Stevanus, didominasi oleh generasi millenial dan gen-z yang memiliki pandangan lebih rasional, terkait dengan kandidat yang akan dipilih dan mewakilinya di parlemen. 

Sistem pemilu proporsional terbuka mengurangi dominasi kaum elite dalam partai. Tidak hanya elit partai yang memiliki peluang besar untuk terpilih. 

“Pemilih dapat memilih kandidat-kandidat yang memiliki kompetensi, kapasitas, pengalaman yang diharapkan dan tidak tergantung pada jaringan struktur oligarki kekuasaan yang ada,” kata R. Stevanus, menjelaskan.

R. Stevanus menerangkan, sistem pemilu proporsional terbuka mendorong semua kandidat baik incumbent maupun baru, untuk memiliki ikatan hubungan yang lebih langsung antara pemilih dan kandidat. 

“Ini menciptakan kebutuhan bagi kandidat untuk terus berkomunikasi dengan pemilih dan memperhatikan dan memperjuangkan aspirasi konstituennya. Sehingga memutus politikus yang pragmatis, mengandalkan uang, kekuasaan dan kedekatan dengan elite-elite partai yang berpotensi kepada nepotisme politik, ucap R. Stevanus, menjelaskan.

“saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terus berjuang menyuarakan aspirasi dan menentang perubahan sistem pemilu proporsional terbuka menjadi tertutup terutama mahasiswa di DIY dan berbagai wilayah lainnya yang bergerak bersama menyuarakan penolakan,” pungkasnya.

Telah terbit di RRI.CO.ID pada 16 Juni 2023

Author: dewanstevanus

Tinggalkan Balasan